Haid dan Akhwat

Assalamualaikum

Teman teman yang dirahmati Allah,adalah suatu anugerah yang besar bagi seorang wanita yang telah menginjak remaja dan mengalami haid. Mengapa? Haid merupakan penanda bahwa seorang remaja putri telah baligh dan penanda bahwa ia tidak sakit/normal. Nah,bagi teman – teman yang merasa bahwa haid menghalangi kita untuk beribadah, rubahlah paradigma itu. Tidak semua ibadah dilarang ketika kita haid kok. Oleh karenanya,pada kesempatan kali ini,saya akan memberi informasi bagaimana caranya tetap dekat dengan Allah dalam keadaan haid.

Sebelumnya,ingatlah teman! Haid bukan hal yang sepele. Karena ini menyangkut ibadah kita kepada Allah S.W.T

Haid merupakan ketetapan dari Allah S.W.T. lamanya haid,paling pendek adalah 3 hari 3 malam dan terpanjangnya 15 hari. Waktu minimal suci diantara 2 haid adalah 15 dan tidak ada batas maximal suci dari haid.

Darah yang mengalirpun,tidak selalu mengalir terus – menerus selama masa haid. Kadang darah terhenti,lalu dihari berikutnya mengalir lagi. Nah,berkenaan dengan masalah keluarnya darah haid tersebut,ada satu kunci yang memudahkan kita untuk menentukan darah haid atau bukan.

Bedasarkan kondisinya,perempuan yang mengalami haid terbagi atas tiga golongan :

1. Pemula

• Perempuan yang baru mengalami haid tetapi mempunyai masa hadi yang tidak teratur
• Maka,wajib baginya untuk berhenti dari shalat,puasa sampai datangnya masa suci.
• Jika darah yang keluar lebih dari 15 hari,maka wajib untuk mandi besar.
• Jika terputus darahnya selama masa 15 hari,misalnya dia melihat darah satu atau dua hari,kemudian berhenti an terus berulang seperti itu maka baginya untuk mandi dan shalat setiap bersih dari haid dan berhenti dari shalat,puasa,dan amalan lain yang dilarang selama darah keluar.

2. Bagi yang sudah memiliki kebiasaan(waktu haid yang tetap dan teratur)

• Jika melihat keluar warna kuning atau keruh setelah di luar waktu kebiasaan haidnya maka tidak dianggap darah haid. Seperti yang diucapkan seorang shahabiyah(sahabat nabi yang wanita)
“dari Ummu Athiyah,ia berkata:kami tidak menganggap warna kuning atau keruh sebagai darah haid setelah datangnya masa suci”
• Namun,jika melihat warna keruh atau kuning selama berlangsungnya masa haid,maka tetap berlaku hokum haid baginya.

3. Perempuan yang darahnya keluar diwaktu kebiasaan haidnya dan umumnya disebut darah penyakit

• Jika seorang perempuan sudah mu’tadah(bagi yang sudah punya kebiasaan) sebelum keluarnya darah istihadah maka dia tetap shalat dan puasa selama masa keluarnya darah istihadah tersebut
• Jika bukan mu’tadah dan lupa bilangan hari haidnya dan tidak mampu membedakan warna darahnya,terkadang hitam dan terkadang merah,maka ambilah warna hitam sebagai ukuran darah haid sebagaimana Hadits Rasulullah kepada Fatimah binti Hubaisy
• Jika tetap tidak mampu membedakan warna darah,maka merujuk pada kebiasaannya,yaitu enam atau tujuh hari kemudian mandi dan shalat walau darah tetap mengalir.

Macam – macam darah haid:

a. Hitam
Sesuai hadits Rasulullah kepada Fatimah binti hubaisy yang ketika itu sedang haid
“warna darah haid adalah hitam. Jika terdapat darah yang seperti itu,berhentilah mengerjakan shalat!jika tidak demikian,maka berwudulah dan shalatlah karena ia hanyalah penyakit”
b. Merah,warna asli darah
c. Kuning,air yang Nampak seperti nanah kekuningan
d. Keruh,pertengahan antara warna putih dan hitam seperti air yang kotor

Hati manusia selalu mudah dibolak balik dan berubah ubah. Terkadang suasana hati penuh kekhusyukan dan tak jarang mals untuk beribadah. Untuk menjaga kemantapan hati dan keimanan serta menjayhkan dari amalan syetan,maka laukan amalan – amalan yang diperintahkan.

Namun dalam kondisi haid,ibadah utama seperti shalat,puasa dan mengaji dilarang untuk dilakukan. Eitss..jangan salah,masih banyak amalan lain yang bias dilakukan perempuan haid untuk mengindari kekosongan jiwa karena ibadah yang dilarang dilakukan. Diantaranya adalah :

1. Berdoa
Berdoa tidak mensyaratkan kesucian tubuh dari hadats besar maupun kecil. Bahkan,doa ini sebenarnya adalah inti dari ibadah. Panjatkan doa dengan keyakinan bahwa doa kita akan dikabulkan oleh Allah S.W.T. namun jika belum terkabul,jangan bersedih. Mungkin Allah menunda dan mungkin akan dikabulkan di akhirat. Bahkan,memanjatkan doa sendiri adalah tabungan pahala.

2. Istighfar
Dalam banyak ayat Allah memerintakan kita untuk selalu memohon ampun kepadanya

سبح بحمد ربك واستغفره إنه كان توابا
Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat.(An - Nash ayat 3)

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالإبْكَارِ
 “Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.”(Al Mu'min ayat 55)

dalam keadaan haid maupun suci,semestinya ucapkan istighfar berulang – ulang. Tentu dengan disertai pemahaman akan makna permohonan ampun dan berjanji tidak mengulangi


3. Zikir
Zikir atau banyak mengingat Allah adalh amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah S.W.T. kondisi haid,tidak menghalangi perempuan untuk selalu berzikir mengingat Allah dalam berbagai kesempatan. Banyak sekali bacaan zikir yang dapat kita amalkan seperti tasbih (subhanallah),tahmid (Alhamdulillah), takbir(Allahu Akbar),tahlil (Laa Ilaaha Illallah),dsb

4. Membaca shalawat Nabi
Allah memerintahkan kita untuk bershalawat kepada Rasulullah,sebagaimana Allah sendiri dan seluruh malaikatpun bershalawat kepadanya (Al- Anzhab 56)

5. Mendengarkan tilawah Al – Quran
Disaat kita dilarang untuk membaca Al – Quran,mendengarkan orang yang membaca Al – Quran punakan mendatangkan pahala.
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ 
Dan apabila dibacakan Al Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat(Al - A'raf  204)

Saat ini begitu banyak jalan yang mempermudah kita untuk mendengarkan bacaan Al – Quran. Tidak harus dari orang yang membaca langsung,tetapi dari radio,TV maupun MP3 juga diperbolehkan.

6. Mendengarkan atau menghadiri majelis ilmu
Dalam kondisi haid,aktivitas ini tentu tetap harus dilakukan. Tidak ada alas an untuk mengabaikan kajian – kajian keislaman rutin yang biasa diikuti karena haid. Bukan hanya ilmu yang didapat dengan menghadiri majelis ilmu tersebut,tetapi juga membpererat tali silaturahmi.

7. Mengulang hafalan Al – Quran
Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengeluarkan fatwa “dibolehkan bagi wanita haid untuk membaca Al – Quran jika ada keperluan. Misalnya dia seorang guru yang membaca Al – Quran untuk pengajaran,atau ia seorang pelajar yang membaca Al – Quran untuk belajar,atau dia mengajar untuk anak – anaknya yang masih kecil atau sudah besar dan dia menyampaikan atau membacakan Al – Quran di depan mereka. Yang penting adalah jika ada kebutuhan bagi wanita untuk membaca Al – Quran maka itu boleh dan tidak mengapa. Begitu pula jika dia khawatir lupa maka membacanay merupakan upaya untuk mengingatkan maka itu tidak mengapa walu dia dalam keadaan haid.


8. Berbuat baik kepada sesama muslim

Nah,teman – teman,sudah cukup jelas bahwa haid merupaka anugrah yang wajib kita syukuri. Karena disinilah letak keistimewaan perempuan. Dalam keadaan haidpun,kita tetap bias dekat dengan Allah dengan menjalankan amalan – amalan diatas.

Sekiranya,hanya itu yang dapat saya informasikan. Sesungguhnya kesempurnaan adalah milik Allah dan kesalahan milik saya sendiri. Terima kasih (:
Wassalam.

Comments

Popular Posts