Skip to main content

dimata mereka

RE-BLOG FROM calon pemimpin yang melawan ancaman individualisme

Kami pemimpin bangsa tak kenal kata menyerah
Walaupun lelah, letih melanda
Badan ditegakkan, lihat lurus kedepan, dengan semangat baja…
Jangan hiraukan tipu daya kemalasan, pikiran jernih, hatipun suci,
Dengan petunjuk Tuhan yang Maha Pengasih, meraih terus,
Presatasi! Prestasi!

Calon Pemimpin Bangsa. Begitulah apa yang ditanamkan dalam benak setiap siswa yang menjadi insan penuntut ilmu di SMA Negeri 5 Surabaya. Sesuai dengan lirik lagu di atas, yang biasanya dikenalkan pada para siswa baru SMAN 5 semenjak Masa Orientasi Siswa.
Persepsi tersebut membuat setiap anak di salah satu SMA terbaik di Indonesia ini merasa spesial, menimbulkan sugesti bahwa mereka adalah orang yang penting, dan mau tidak mau memaksa mereka untuk berkontribusi lebih terhadap bangsa dan negara. Sehingga, setiap elemen yang ada di sekolah ini, baik melalui pendidikan di bangku kelas hingga pendidikan di luar kelas, diharapkan mampu mencetak generasi-generasi yang beriman, berprestasi, dan berakhlak mulia.
SSKI V (Sub Seksi Kerohanian Islam SMAN 5) menjadi salah satu fasilitator untuk mewujudkan generasi-generasi tersebut. Peran SKI di sini cukup sentral mengingat hampir 90% siswa di SMAN 5 Surabaya adalah muslim. Sehingga, SKI memiliki peranan penting dalam membina mental siswa-siswa baik dari sisi iman maupun akhlak. Hal itu lebih dirasa perlu, terutama dalam situasi seperti saat ini dimana pelajaran Agama Islam dirasa sangat kurang di kurikulum poendidikan formal.
Itulah apa yang dikatakan oleh Lukman Raharjo, ketua SSKI V. Dia menjelaskan, bahwa untuk menutupi kekurangan-kekurangan tersebut, SSKI V membuat berbagai program seperti mentoring wajib bagi kelas X, serta berbagai kajian-kajian Islam yang dapat dihadiri oleh umum.
Namun jumlah 90% siswa muslim bukan berarti bahwa program-program tersebut dapat berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun. Lukman mengakui bahwa dalam perjalanannya saat ini, SSKI V mengalami banyak tantangan. Tantangan terberat yang dihadapi adalah semakin banyaknya siswa-siswa yang terjebak dalam sifat individualisme. Masih saja ada siswa yang tidak mau diajak berpikir bersama serta peduli untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di masyarakat atau bahkan di dalam SMA 5 sendiri. “Dari tahun ke tahun, masalah individualisme ini semakin parah, mas” tandasnya. Tentunya kita semua telah mahfum bahwa masalah ini juga menimpa mayoritas generasi muda kita.
Hal tersebut juga disepakati oleh mantan ketua SSKI V, Liga Primabaka serta mantan ketua MPK SMAN 5 Surabaya, Arya Adiansyah. Keduanya sepakat bahwa pola pikir mayoritas siswa yang memahami bahwa Islam itu hanya sebatas ritual saja, membuat nama SSKI V menjadi tidak menarik. Sehingga, banyak yang lebih memilih ekstrakurikuler seperti basket dan futsal. Bahkan Arya menambahkan bahwa masalah yang terjadi tidak hanya dari eksternal SKI (siswa-siswa muslim SMAN 5 pada umumnya), namun juga dari internal SKI sendiri.
“Banyak anak-anak smala (sebutan SMAN 5) yang merasa dirinya berbeda dengan anak-anak SKI, beberapa dari anak-anak SKI sendiri juga merasa dirinya berbeda dengan anak-anak smala baik secara sadar atau tidak.  Ini membuat ada jurang pembatas antara anak-anak smala dengan SKI, jadinya SKI akan sulit menjangkau anak-anak smala yang merasa dirinya berbeda,” itulah yang dikatakan oleh Arya atas kondisi SMAN 5 Surabaya saat ini. Keduanya juga sepakat, bahwa selama ini masih belum ada sosok yang dapat dijadikan contoh/teladan oleh seluruh siswa SMAN 5 dari SSKI V sendiri. Padahal menurut mereka, cara penyampaian dakwah yang terbaik adalah dengan memberikan keteladanan.
Mimpi yang Didukung Potensi
Bagaimanapun, SSKI V adalah sebuah organisasi yang memiliki kewajiban untuk berdakwah, dari lingkup paling kecil yaitu internal pengurus,  seluruh insan SMA Negeri 5 Surabaya, bahkan jika memungkinkan juga keluar dari lingkup sekolah. Untuk mencapai tujuan tersebut, baik Liga dan Arya sepakat bahwa SSKI V harus bisa menjadi sebuah organisasi yang merangkul semua pihak, termasuk anak yang gemar olahraga, nge-band, ataupun study oriented. Disamping itu, SSKI V juga harus dapat mengikuti perkembangan zaman dan teknologi dalam berdakwah. Sehingga, SSKI V tidak akan dicap sebagai organisasi yang kuno oleh siswa-siswa SMAN 5 yang mayoritas memang dari golongan menengah atas.
Ketua SSKI V saat ini, Lukman mengakui bahwa, sampai saat ini SSKI V masih menempatkan diri sebagai fasilitator. Dengan kata lain, SSKI V dapat mencetak orang-orang yang luar biasa hanya jika orang-orang yang mengikuti kegiatannya adalah orang-orang yang memang berkeinginan untuk berubah. Namun, senada dengan Arya dan Liga, Lukman sendiri juga memimpikan SKI yang bisa merangkul semua pihak, dengan manajemen, koneksi, serta SDM yang baik.
Hal tersebut tentunya bukanlah mimpi kosong belaka. Setiap tahun, memang banyak SDM-SDM unggulan yang mendaftar untuk masuk SMAN 5, sehingga tentunya tidak sulit untuk mencari SDM-SDM berkualitas. Jika seorang siswa telah memiliki rasa memiliki yang tinggi atas sekolah dan organisasinya, maka siswa tersebut akan memberikan segenap usahanya yang terbaik dalam bekerja, walaupun mungkin pada mulanya masih banyak yang tidak peduli. Dari sisi guru sendiri, baik Lukman, Liga, dan Arya mengakui bahwa mayoritas guru mendukung kegiatan selama apa yang dilakukan adalah hal positif. Maka dengan potensi-potensi seperti itu, diharapkan SSKI V mampu mencetak para pemimpin bangsa yang luar biasa!
Oleh: Renatha Agung Yoga, Surabaya

Comments

Popular posts from this blog

sakit

Setiap manusia pasti diuji
dan itu adalah pasti

mungkin ujian terberat adalah ketika diberi kemudahan
karena dengan kemudahan, kadang kala kita jadi mudah meremehkan orang lain

Allah sudah memerintahkan untuk berdoa
berdoa memohon yang terbaik

Kadangkala sebagai penonton, kita mudah mengatakan
"Sabar ya...insyaAllah ada jalan keluarnya"

Namun ketika kita sebagai pemain, kita seolah susah menerapkan kesabaran

ini adalah tahun kesekian bagiku untuk melewati ujian ini lagi
sakit. Yang tidak mudah untuk aku jelaskan

kondisiku menjadi berbeda dengan orang lain
dan terkadang aku merasa iri dengan mereka yang normal-normal saja

lalu aku tersadar, mungkin ini adalah jalan yang mudah bagiku untuk membuka pintu surga bernama "kesabaran"

iya. Kesabaran

Betapa banyak cerita tentang hamba Allah yang diuji berbagai hal dan sabar dan mereka menjadi terangkat derajatnya dihadapan Allah.

sakit. Tidak apa-apa.
aku memang kurang normal jika dibandingkan orang lain
tetapi itu berarti …

Syahadat Mematahkan Salib Pendeta

Bismillahirahmanirahim
hari ini,30 desember 2012,di Masjid Al Falah Surabaya, aku menyaksikan kesaksian seorang mantan Pendeta yang menjadi muslim dan menjadi ustadz saat ini.

dimulai dengan video perdebatan mantan muslim dan mantan nasrani yang ha banget
lalu sebuah cerita nyata tentang saudara kita seorang yang baru masuk islam,ayahnya seorang hindu dan ibunya seorang aktivis gereja, ia ketahuan shalat malam oleh ayahnya,dan hari pertama seluruh alat shalatnya dibakar, tidak jera,ia kembali shalat, hari kedua rambutnya dipangkas oleh ayahnya,tak jera lagi,ia kembali shalat dan hari ketiga itulah ia diikat oleh rantai,hingga akhirnya meninggal dunia. adiknya yang juga ingin masuk Islam,lari ke masjid Al Falah dan melaporkan hal ini.
taukah kawan? jasad saudari kita ini di semayamkan di gereja lalu di bakar secara ngaben,namun, wajahnya (kepala) tak mampu terbakar,bahkan tergores pun tidak. hingga ayahnya jengkel dan membawanya ke guru agama Islam putrinya dan disanalah, kepalanya dik…

Telepon Hari Ini

"Dek, lakukan apa yang ingin kamu lakukan dalam kebaikan, raih apa yang ingin kamu raih, selesaikan apa yang ingin kamu selesaikan, pelajari semua yang adik ingin pelajari, karena setelah menikah, kamu akan terikat, waktumu tidak akan banyak untuk dirimu lagi. Dan adik harus ingat, jangan takut menikah, tidak semua pernikahan akan berakhir seperti ibuk."

What I have to say?

Something like, I do believe that setiap orang tua ga ingin lihat anaknya sedih. Ga mungkin juga orang tua menghalang-halangi kebahagian anaknya. Mereka hanya ingin menjaga dan memastikan kita ada dalam tempat dan kondisi yang semestinya.

Apalagi seorang ibu.

Tidak mungkin seorang ibu akan mudah melepas anak perempuannya begitu saja. Naluri dan perasaan ibu itu kuat. Maka, aku akan lebih memilih apa kata ibuku daripada perasaanku sendiri.