Pages

Saturday, September 29, 2012

Kami hanya berprasangka baik kepada Allah

 Sang ayah bekas budak. Selaman menjadi budak, libur Jumat sebagaimana ditetapkan kesultanan dimanfaatkan untuk habis-habisan bekerja. Dengan dirham demi dirham yang terkumpul, satu hari dia minta izin untuk menebus dirinya pada sang majikan. “Tuan”, ujarnya, “Apakah dengan membayar harga senilai dengan berapa engkau membeliku dulu, aku akan bebas?”. “Ya. Bisa” ujar sang majikan. “Baik, ini dia.” katanya sambil meletakkan bungkusan uang itu di hadapan tuannya. “Allah ‘Azza wa Jalla telah membeliku dari Anda, lalu Dia membebaskanku. Alhamdulillah. “Maka engkau bebas karena Allah”, ujar sang tuan tertakjub. Dia bangkit dari duduknya dan memeluk sang budak. Dia hanya mengambil separuh harga yang tadi disebutkan. Separuh lagi diserahkannya kembali. “Gunakanlah ini,” katanya berpesan, “Untuk memulai kehidupan barumu sebagai orang yang mereka. Aku berbahagia menjadi sebagian Tangan Allah yang membebaskanmu!” Penuh syukur dan haru, tapi aku disergap khawatir, dia pamit. “Aku tidak tahu wahai Tuanku yang baik,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca,
 “Apakah kebebasan ini rahmat ataukah musibah. Aku hanya berbaik sangka kepada Allah.”


Tahun demi tahun berlalu. Dia telah menikah. Tetapi sang istri meninggal ketika menyelesaikan tugasnya, menyempurnakan susuan sang putra hingga usia dua tahun. Maka dibesarkan putera semata wayangnya itu dengan penuh kasih. Dididiknya anak lelaki itu untuk memahami agama dan menjalankan sunnah Nabi, juga untuk bersikap ksatria dan berjiwa merdeka. “Anakku,” katanya di suatu pagi, “Ayahmu ini dulu seorang budak. Ayahmu ini separuh manusia di mata agama dan sesama. Tetapi selalu kujaga kehormatan dan kesucianku, maka Allah memuliakanku dengan membebaskanku. Dan jadilah kita orang yang merdeka. Ketahuilah Nak, orang bebas yang paling merdeka adalah dia yang bisa memilih caranya untuk mati dan menghadap Ilahi!” Sang anak mengangguk-angguk. Sang ayah mengeluarkan kantong berpelisir emas. Dinar-dinar di dalamnya bergemerincing. “Mari mempersiapkan diri,” bisiknya.
“Mari kita beli yang terbagus dengan harta ini untuk dipersembahkan dalam jihad di jalanNya. Mari kita belanjakan uang ini untuk mengantar kita pada kesyahidan dengan sebaik-baik tunggangan.”

Siangnya, mereka pulang dari pasar dengan menuntun seekor kuda perang berwarna hitam.
Kuda itu gagah.
Surainya mekar menjumbai.
Tampangnya mengagumkan.
Matanya berkilat.
Giginya rapi dan tajam.
Kakiknya kekar dan kukuh.
Ringkiknya pasti membuat kuda musuh bergidik.
Semua tetangga datang untuk mengaguminya. Mereka menyentuhnya, mengelus surainya. “Kuda yang hebat!” kata mereka. “Kami belum pernah melihat kuda seindah ini. Luar Biasa! Mantap sekali! Berapa yang kalian habiskan untuk membeli kuda ini?” Anak beranak itu tersenyum simpul. Yah, itulah simpanan yang dikumpulkan seumur hidup. Para tetangga ternganga mendengar jumlahnya. “Wah”, seru mereka, “Kalian masih waras atau sudah gila? Uang sebanyak itu dihabiskan untuk membeli kuda? Padahal rumah kalian reyot nyaris roboh. Untuk makan besok pun belum tentu ada!”
Kekaguman di awal tadi berubah menjadi cemooh. “Tolol!” kata salah satu. “Tak tahu diri!” ujar yang lain. “Pandir!”

“Kami tak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah,” ujar mereka.

Para tetangga pulang. Ayah dan anak itu pun merawat kudanya dengan penuh cinta. Makanan si kuda dijamin kelengkapannya; rumput segar, jerami kering, biji-bijian, dedak, air segar, kadang bahkan ditambah madu. Si kuda dilatih keras, tapi tak dibiarkan lelah tanpa mendapat hadiah. Kini mereka tak hanya berdua, melainkan bertiga. Bersama-sama menanti panggilan Allah ke medan jihad untuk menjemput takdir terindah. Sepekan berlalu. Di sebuah pagi buta ketika sang ayah melongok ke kandang, dia tak melihat apapun. Kosong. Palang pintunya patah. Beberapa jeruji kayu terkoyak remuk.

Kuda itu hilang!

Berduyun-duyun para tetangga datang untuk mengucapkan bela sungkawa. Mereka bersimpati pada cita tinggi kedua anak ayah itu. Tapi mereka juga menganggap keduanya kelewatan. “Ah, sayang sekali!” kata mereka, “Padahal itu kuda terindah yang pernah kami lihat. Kalian memang tidak beruntung. Kuda itu hanya hadir sejenak untuk memuaskan ambisi kalian, lalu Allah membebaskannya dan mengandaskan cita-cita kalian!” Sang ayah tersenyum sambil mengelus kepala anaknya. “Kami tak tahu,” ucap serempak keduanya,

 “Ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah.”

Mereka pasrah. Mereka mencoba untuk menghitung-hitung uang dan mengira-ngira, kapan bisa membeli kuda lagi. “Nak,” sang ayah menatap putranya, “Dengan atau tanpa kuda, jika panggilan Allah datang, kita harus menyambutnya.” Si anak mengangguk mantap. Mereka kembali bekerja tekun seakan tak terjadi apapun. Tiga hari kemudian, saat shubuh menjelang, kandang kuda mereka gaduh dan riuh. Suara ringkikan bersahut-sahutan. Terkejut dan jaga, ayah dan anak itu berlari ke akndang sambil membenahi pakaiannya. Di kandang itu mereka temukan kuda hitam yang gagah bersurai indah.

 Tak salah lagi, itu kuda mereka yang pergi tanpa pamit tiga hari lalu!

 Tapi kuda itu tak sendiri. Ada belasan kuda lain bersamanya. Kuda-kuda liar! itu pasti kawan-kawannya. Mereka datang dari stepa luas untuk bergabung di kandang si hitam. Mungkinkah kuda punya akal jernih? Mungkinkah si hitam yang merasa mendapatkan layanan terbaik di kandang seorang bekas budak mengajak kawan-kawannya bergabung? Atau tahukah mereka bahwa mendatangi kandang itu berarti bersiap bertaruh nyawa untuk kemuliaan agama Allah, kelak jka panggilanNya berkumandang? Atau memang itu yang mereka inginkan? Ketika hari terang, para tetangga datang dengan takjub. “Luar biasa!” kata mereka. “Kuda itu pergi untuk memanggil kawan-kawannya dan kini kembali membawa mereka menggabungkan diri!” Mereka semua mengucapkan selamat pada pemiliknya. “Wah, kalian sekarang kaya raya! Kalian orang terkaya di kampung ini!” Tapi si pemilik kembali hanya tersenyum.

 “Kami tak tahu, ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah.”

Hari berikutnya dengan bahagia, sang putra mencoba menaiki salah seekor kuda itu. Sukacita dia memacunya ke segala penjuru. Satu saat, kuda liar itu terkejut ketika berpapasan dengan seekor lembu yang lepas dari kandang di persimpangan. Dia meronta keras, dan sang penunggang terbanting. Kakinya patah. Dia meringis kesakitan. Para tetangga datang menjenguk. Mereka menatap anak itu dengan pandangan penuh iba. “Kami turut prihatin” kata mereka. “Ternyata kuda itu tidak membawa berkah. Mereka datang membawa musibah. Alangkah lebih beruntung yang tak memiliki kuda, namun anaknya sehat sentausa!” Tuan tumah tersenyum lagi.

“Kami tak tau, ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah”

Hari berikutnya, hulubalang raja berkeliling negeri. Dia mengumumkan pengerahan pasukan untuk menghadapi tentara musuk yang telah menyerang perbatasan. Semua penduduk yang sehat jasmani dan rohani wajib bergabung untuk mempertahankan negeri. Sayang, perang ini sulit dikatakan sebagai jihad di jalan Allah karena musuk yang hendak dihadapi adalah sesama Muslim. Mereka hanya berbeda kesultanan. “Nak,” bisik sang ayah ke telinga sang putra yang terbaring tak berdaya, “Semoga Allah menjaga kita dari menumpahkan darah sesama Muslim. Allah Maha Tahu, kita ingin berjihad di jalanNya. Kita sama sekali tak hendak beradu senjata dengan orang-orang beriman. Semoga Allah membebaskan diri kita dari beban itu!” Mereka berpelukan. Petugas pendaftaran mendatangi tiap rumah dan membawa para pemuda yang memenuhi syarat. Saat memasuki rumah ayah dan anak pemilik kuda, mereka mendapai putranya terbaring di tempat tidur dengan kaki terbebat, disangga kayu dan dibalut kain. “Ada apa dengannya?” “Tuan prajurit,” kata sang ayah, “Anak saya ini begitu ingin membela negeri dan dia telah berlatih untuk itu. Tetapi kemudian dia jatuh dari kuda ketika sedang mencoba menjinakkan kuda liar kami. Kakinya patah.” “Ah, sayang sekali!” kata Sang Hulubalang. “Padahal kulihat dia begitu gagah. Dia pasti akan menjadi seorang prajurit tangguh. Tapi baiklah. Dia tak memenuhi syarat. Maafkan aku, aku tak bisa mengikutsertakannya!”

Dan hari itu, para tetangga yang ditinggal pergi putra-putranya menjadi prajutit mendatangi si pemilik kuda. “Ah, nasib!” kata mereka. “Kami kehilangan anak-anak lelaki kami, tumpuan harapan keluarga. Kami melepas mereka tanpa tahu apakah mereka akan kembali atau tidak. Sementara putramu tetap bisa di rumah karena patah kakinya. Kalian begitu beruntung! Allah menyayangi kalian!” Tuan rumah ikut bersedih melihat mendung di wajah-wajah itu. Kali ini bapak dan anak itu tak tersenyum. Tapi ucapan mereka kembali bergema,

“Kami tak tahu, ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah.”

Sebulan kemudian, kota itu dipenuhi ratapan para ibu dan isak tangis para istri. Sementara para lelaki hanya termangu dan tergugu. Kabarnya telah jelas. Semua pemuda yang diberangkatkan perang tewas di medan tempur. Tapi agaknya para warga telah belajar banyak dari ayah beranak pemilik kuda. Seluruh penduduk kota kini menggumamkan kalimat indah itu. “Kami tak tahu ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah.” Singkat cerita, tak berapa lama kemudian panggilan jihad yang sebenarnya bergema. Pasukan Mongol dipimpin Hulagu Khan menyerbu wilayah Islam dan membumihanguskannya hingga rata dengan tanah. Orang-orang tak berperikemanusiaan itu mengalir bagai air bah meluluhlantahkan peradaban. Ayah dan anak itu pun menyongsong janjinya. Mereka bergegas menyambut panggilan dengan kalimat agungnya,

“Kami tak tahu, ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah!”

 Mereka memang menemui syahid. Tapi sebelum itu, ada selaksa nikmat yang Allah karuniakan kepada mereka untuk dirasai. Sang anak pernah tertangkap pasukan Mongol dan dijual sebagai budak. Dia berpindah-pindah tangan hingga kepemilikannya jatuh kepada Al-Kamil, seorang Sultan Ayyubiyah di Kairo. Ketika pemerintahan Mamluk menggantikan wangsa Ayyubiyah di Mesir, kariernya menanjak cepat dari komandan kecil menjadi panglima pasukan, lalu Amir wilayah. Terakhir, setelah wafatnya Az-Zahir Ruknuddin Baibars, dia diangkat menjadi Sultan. Namanya Al-Manshur Saifuddin Qalawun.

Wednesday, September 19, 2012

meras benar?

beberapa saat yang lalu..
aku  tersenyum senang, banyak mereka dari angkatanku yang mulai shalat dhuha
namun terbesit perkataan dalam hati.."mengapa baru sekarang? ketika sudah dekat dengan unas,mereka baru memulainya.."

lalu..
ketika aku terdiam dan mengamati..
terbesit dalam hati "mengapa mereka melakukan amanah mereka seperti itu?"

dan puncaknya kau membaca ini..
 
jika kau merasa besar, 
periksa hatimu.
Mungkin ia sedang bengkak.
Jika kau merasa suci, 
periksa jiwamu.
Mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani.
Jika kau merasa tinggi, 
periksa batinmu.
Mungkin ia sedang melayang kehilangan pajakan.
Jika kau merasa wangi, 
priksa ikhlasmu,
mungkin itu asap dari amal shalihmu YANG HANGUS DIBAKAR RIYA'

Astagfirullah...
apa aku sudah terlalu suci untuk pantas menjudge teman temanku yang melakukan hal baik?
apa aku sudah terlalu banyak amal kebaikansehingga aku berhak berpikir seperti itu?
dan apakah aku telah melakukan amanahku dengan sempurna,sehingga aku bisa mengomtari amanah orang lain?

dan begitulah
sepantasnyalah aku mendukung mereka yang berbuat kebaikan dan menyelesaikan amanahku dengan baik,dan yang terpenting menghindari RIYA'


Friday, September 14, 2012

Bandung (?) kota yang (jauh)

"yakin mau ke ITB? kan di bandung"
jare sopo nang suroboyo

bandung ada disana
di ujung barat pulau jawa
jauh dari negeriku lahir dan dibesarkan
tapi disanalah aku jatuh hati
tak peduli apa kata orang tentang pilihanku yang tidak prestige

dan disanalah
ketika ibuku berkata "iya"
rasanya aku ingin menangis, menangis untuk kebahagian atau malah untuk waktuku yangsemakin sempit di smala

apa pun itu
bandung telah berhasil membuatku jatuh cinta
dan itulah yang kusebut cita cita
 


kemarin aku melihatmu disana

seperti kemarin aku baru saja melihatmu disana
berdiri dengan segala yang kau punya
dan aku melihat semangat itu
semangat yang sejak fajar kau barakan
semangat yang hingga larut tak kau padamkan
dan semarak kebangkitan dalam dirimu

dan kini
ketika daun daun mulai berguguran kembali
aku sadar kau sedang berdiri di tempat yang sama
mengkhawatiran kewajibanmu
dan masa depan apa yang sedang kau pegang

bukan kemarin tepatnya, tapi setahun yang lalu
dan aku tau kau bisa melewatinya
daun daun itu akan segera mengering
dan itulah saatnya kau harus melepasnya kepada orang lain

-SSKI V-

Alhamdulillah

hasil ulangan pertama fisika di kelas XII

jauh lebih baik  ketimbang hasil ualangan fisika pertama di kelas X yang mendapat nilai 64
Alhamdulillah harus tetap bersyukur

mungkin di kelas XI dulu dengan semangat 45 bisa lebih dari itu
tapi sekarang semangat saja tidak cukup

tetap semangat
perjuangan baru dimulai
dan begitulah, Allah benar benar ingin aku merasakan manisnya perjuangan