Skip to main content
Bagaimana? Sudah jauh lebih baik bukan? Alhamdulillah..

aku hanya ingin berbagi cerita tentang apa yang aku alami.
aku,bocah 17 tahun,yang seharusnya saat ini masih duduk di bangku kelas tiga SMA,alhmdulillah diberi kesempatan Allah untuk menjadi lebih dewasa.

Saat ini aku harus berhasil untuk menopang diriku sendiri untuk kembali bangkit. Setelah berbagai hal yang aku alami,aku sadar hidup memang seperti ini. Walau aku tidak pernah membayangkan sebelumnya,tapi aku tahu Allah tidak tidur.

Kehilangan arah? Mungkin.
tanpa tujuan? Bisa jadi.

memang sakit rasanya setelah apa yang diberikan Allah itu diambil begitu cepat. Apalgi celotehan orang orang yang menyatakan aku gagal dan sebagainya. Lalu aku ingin bertanya,di saat seperti ini adakah mereka yang disana sedikit saja mengetahui bagaimana aku saat ini?
Mungkin tidak. Dan aku tidak berharap mereka tahu,karena itu memang salahku yang dulu meninggalkan mereka untuk belajar memenuhi kebutuhan ilmuku.

Dan hal inilah yang membuatku sadar. Aku tidak ingin lagi dianggap luar hiasa dimata orang lain. Aku tidak ingin lagi orang lain sampai tahu apa yang telah aku raih di masa lalu. Aku ingin terlepas dari itu. Aku ingin mereka,orang-orang baru dalam hidupku menganggap aku biasa. Sama seperti mereka.

aku kuat. Aku tahu itu. Dan inilah yang akan membuat aku berbeda dari orang lain. Bahwa saat ini aku harus menghadapi ini seorang diri.
sampai kapan pun aku tahu yang harus aku sesali adalah ketika iman dicabut oleh Allah. Maka selama yang dicabut oleh Allah bukanlah ketaqwaan,maka aku harus ikhlas.

dan kini,aku berusaha tersenyum dan menghapus luka demi luka dalam diriku. Jika memang bertanya mengapa,maka aku akan menjawab karena Allah jauh lebih tahu. Aku tahu Allah dekat,dan aku sadar Allah Maha Kaya. InsyaAllah semua akan baik-baik saja. Amiin.

Comments

Popular posts from this blog

Syahadat Mematahkan Salib Pendeta

Bismillahirahmanirahim
hari ini,30 desember 2012,di Masjid Al Falah Surabaya, aku menyaksikan kesaksian seorang mantan Pendeta yang menjadi muslim dan menjadi ustadz saat ini.

dimulai dengan video perdebatan mantan muslim dan mantan nasrani yang ha banget
lalu sebuah cerita nyata tentang saudara kita seorang yang baru masuk islam,ayahnya seorang hindu dan ibunya seorang aktivis gereja, ia ketahuan shalat malam oleh ayahnya,dan hari pertama seluruh alat shalatnya dibakar, tidak jera,ia kembali shalat, hari kedua rambutnya dipangkas oleh ayahnya,tak jera lagi,ia kembali shalat dan hari ketiga itulah ia diikat oleh rantai,hingga akhirnya meninggal dunia. adiknya yang juga ingin masuk Islam,lari ke masjid Al Falah dan melaporkan hal ini.
taukah kawan? jasad saudari kita ini di semayamkan di gereja lalu di bakar secara ngaben,namun, wajahnya (kepala) tak mampu terbakar,bahkan tergores pun tidak. hingga ayahnya jengkel dan membawanya ke guru agama Islam putrinya dan disanalah, kepalanya dik…

sakit

Setiap manusia pasti diuji
dan itu adalah pasti

mungkin ujian terberat adalah ketika diberi kemudahan
karena dengan kemudahan, kadang kala kita jadi mudah meremehkan orang lain

Allah sudah memerintahkan untuk berdoa
berdoa memohon yang terbaik

Kadangkala sebagai penonton, kita mudah mengatakan
"Sabar ya...insyaAllah ada jalan keluarnya"

Namun ketika kita sebagai pemain, kita seolah susah menerapkan kesabaran

ini adalah tahun kesekian bagiku untuk melewati ujian ini lagi
sakit. Yang tidak mudah untuk aku jelaskan

kondisiku menjadi berbeda dengan orang lain
dan terkadang aku merasa iri dengan mereka yang normal-normal saja

lalu aku tersadar, mungkin ini adalah jalan yang mudah bagiku untuk membuka pintu surga bernama "kesabaran"

iya. Kesabaran

Betapa banyak cerita tentang hamba Allah yang diuji berbagai hal dan sabar dan mereka menjadi terangkat derajatnya dihadapan Allah.

sakit. Tidak apa-apa.
aku memang kurang normal jika dibandingkan orang lain
tetapi itu berarti …

Terlalu Tangguh

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Hari kedua Praktik Kerja Lapangan (PKL) dan sekaligus hari kedua merasakan kerasnya kehidupan Jakarta. Terlalu lebay mungkin jika disebut keras, maksudku disini adalah merasakan macetnya Jakarta. Baru dua hari dan aku merasakan ternyata capek juga ya untuk menempuh jarak yang hanya 9 km di Jakarta. Bagaimana tidak? Jika bandingannya adalah SMA dan kampusku dulu di Surabaya yang bisa lebih dari 15 km dan aku tempuh sendiri, rasa capeknya lebih besar di Jakarta.

Tadi pagi, saat baru sampai kantor dan perut keroncongan, aku melihat banyak pekerja yang berlalu-lalang. Aku kagum melihat mereka. Sudah berapa tahun mereka melewati ini semua? Aku saja, tadi pagi merasa begitu capek untuk naik motor ke kantor. Aku membayangkan mereka yang harus berdiri di KRL atau busway dan mereka masih harus bekerja selama berjam-jam.

Begitu sayangnya kah mereka kepada keluarganya?
Hingga mereka mengorbankan tenaganya agar keluarganya tetap s…