Pages

Monday, January 30, 2017

Sindrom Media Sosial


Tulisan yang sudah agak lama, kalau tidak salah waktu itu masih semester 2
Semoga bermanfaat
---------------------------------------

Belakangan tahun terakhir masyarakat dunia seakan dimanjakan oleh adanya media sosial. Berbagai akses informasi dan layanan fitur dapat dengan mudah dinikmati di media sosial. Media sosial pun tidak hanya menjadi tempat menambah kenalan tetapi juga sebagai wadah mengeksplor diri. Facebook misalnya, selain digunakan untuk menjalin hubungan pertemanan, masyarakat dunia juga menggunakan Facebook untuk berbagi ide, mencurahkan perasaan, pamer foto pribadi dan sebagainya. Adanya media sosial belakangan ini memunculkan fenomena baru pada masyarakat dunia, yaitu munculnya rasa ingin diakui. 

Maslow (dalam Handoko, 1994) mengungkapkan hasil penelitiannya tentang Hierarki Kebutuhan Manusia. Tingkatan kebutuhan keempat menurut Maslow adalah kebutuhan akan penghargaan. Kebutuhan ini merupakan tingkatan kebutuhan setelah kebutuhan kasih sayang terpenuhi. Maslow menemukan bahwa setiap orang memiliki dua kategori mengenai kebutuhan penghargaan, yaitu kebutuhan yang lebih rendah dan yang lebih tinggi. Kebutuhan yang rendah adalah kebutuhan untuk menghormati orang lain, kebutuhan akan status, ketenaran, kemuliaan, pengakuan, perhatian, reputasi, apresiasi, martabat, bahkan dominasi. Kebutuhan yang tinggi adalah kebutuhan akan harga diri termasuk perasaan, keyakinan, kompetensi, prestasi, penguasaan, kemandirian dan kebebasan. 

Penerapan dari teori ini dapat kita saksikan pada fenomena di media sosial seperti Instagram. Sejak Instagram diluncurkan pada Oktober 2010 lalu, Instagram telah memiliki 300 juta pengguna di tahun 2014. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Jejak Pendapat Apps, dari 530 responden pengguna Instagram di Indonesia, foto yang paling sering dibagikan di Instagram adalah aktivitas yang sedang dilakukan (53,21%), foto pribadi (33,02%), dan makanan atau minuman (7,36%). Hal tersebut menunjukkan betapa masyarakat saat ini senang membagikan aktivitas yang dia lakukan dan foto pribadi miliknya. 

Pengguna instagram pun semakin senang jika foto yang dia upload ke dunia maya mendapat ‘like’ atau ‘comment’ dari pengguna lain. Rasa akan penghargaan, pengakuan, perhatian, reputasi, dan apresiasi pun terpenuhi.  Semaik banyak ‘like’, semakin meningkat rasa sukses akan pengakuan diri. Bisa kita bayangkan betapa massivenya penggunaan media sosial instagram ini. Survei yang dilakukan oleh Instagram Press Center pada tahun 2012 saja menunjukkan bahwa rata-rata 5 juta foto ter-upload per hari dan 575 ‘like’ per detik. Keinginan manusia untuk dilihat, diakui, dikenal, dan diperhitungkan memang terlihat nyata dengan adanya fenomena ini.

Namun, ada hal yang perlu kita garis bawahi, bahwa media sosial bukan tempat yang selamanya aman untuk membagikan setiap aktivitas kehidupan kita. Telah kita ketahui bersama adanya tindak kejahatan yang berkaitan dengan media sosial. Teknologi saat ini memungkinkan seseorang untuk mengambil tanpa izin foto orang lain di laman milik orang tersebut dan mengeditnya sesuai keinginan si pengedit. Contoh yang sering terjadi adalah pengeditan foto yanng berbusana menjadi tidak berbusana. Kejahatan penipuan dan akun palsu juga kerap muncul belakangan ini. Kejahatan lain yang mungkin timbul dari aktivitas pemuasan kebutuhan pengakuan diri ini adalah tentang bahaya syahwat. Betapa banyak pengguna media sosial yang memamerkan keindahan wajah atau tubuhnya yang hal tersebut sering kali membuka pintu setan bagi lawan jenisnya. Tidak sedikit juga kasus tentang pembunuhan seorang gadis oleh teman yang baru ia kenal melalui media sosial.

Kejahatan-kejahatan semacam itulah yang membuat penulis sendiri sering melakukan perdebatan kecil dengan hati sendiri untuk mengupload foto pribadi atau tidak. Terlebih juka penulis baru mengambil foto yang menurut penulis bagus secara wajah dan penampilan. Namun, pada akhirnya penulis lebih memilih untuk tidak mengupload foto yang menunjukkan wajah sebagai upaya untuk proteksi diri dari berbagai macam kejahatan yang mungkin terjadi. Sebagai gantinya, penulis tetap bisa mengupload foto pribadi dengan format foto punggung atau foto dari belakang. Kurang ekspresif memang, tetapi bagi penulis hal tersebut adalah langkah aman untuk tetap dapat memenuhi kebutuhan pengakuan diri dan melindungi diri sendiri.

Teknologi tercipta adalah untuk memudahkan kehidupan manusia. Adanya akses untuk menyalurkan kebutuhan diri ini memang sangat menggiurkan, tetapi tetap perlu digunakan secara bijak dan waspada. Kebutuhan akan pengakuan diri tetap perlu terpenuhi, tetapi yang dapat melindungi privasi pengguna media sosial adalah orang yang bersangkutan. Ketika kita sudah menekan tombol ‘klik’ untuk mengupload foto ke media sosial, berarti kita sudah menyatakan persetujuan bahwa foto tersebut bukan lagi milik kita pribadi, melainkan foto tersebut telah menjadi milik publik. 

Perlu diingat bahwa kebutuhan pengakuan diri tidak hanya dapat didapat melalui media sosial, komunikasi secara offline dengan keluarga, teman, saudara juga merupakan akses untuk memenuhi kebutuhan ini. Maka jadilah bijak dalam menggunakan media sosial. Berpikirlah berulang-ulang sebelum mengupload hal milik pribadi ke dunia maya. Jadikan teknologi sebagai alat yang mempermudah hidup kita, buka sebagai alat yang mebuat kita kecanduan.

Surabaya, 13 September 2015
Rahma Aziza Fitriana
Mahasiswa DIII-Akuntansi PKN STAN


Referensi :
                Handoko, T. Hani. 1994. Manajemen Edisi 2. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta
                Gopego.com/news/a/2012/04/instagram-capai-30-juta-pengguna
                Blog.jakpat.net/apa-yang-kerap-kita-lakukan-sebagai-pengguna-instagram/

Thursday, January 26, 2017

Bukan Ajang Kompetisi

Oleh : 
Rahma Aziza Fitriana
 (Mahasiswa semester 5 DIII Akuntansi Reguler PKN STAN)

Indonesia adalah negara hukum yang mengatur seluruh aspek dalam kehidupan bernegaranya dalam hukum yang berlaku. Tujuan negara Indonesia tercantum pada pembukaan Undang – Undang Dasar 1945. Satu diantaranya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi titik penting untuk meningkatkan stabilitas nasional karena pendidikan adalah salah satu hal terpenting dalam kemajuan suatu bangsa. Dalam buku berjudul ‘Landasan dan Arah Pendidikan Kita’ yang ditulis oleh Prof. Dr. Soedijarto, M.A. (2008), Erman Suparno yang pada periode Indonesia Bersatu jilid pertama mengemban amanah sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, mengungkapkan bahwa kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan kualitas pendidikan. Beliau menambahkan bahwa pendidikan sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa memiliki peranan yang sangat stategis, yaitu berkontribusi dalam mengembangkan sumber daya manusia (SDM) yang bermutu, dengan indikator berkualifikasi ahli, terampil, kreatif, inovatif, serta memiliki attitude (sikap dan perilaku) yang positif. 

Pendidikan menjadi hal yang memengaruhi daya saing suatu negara. Schwab dan Porter dalam Ali (2008) mengungkapkan bahwa pilar-pilar daya saing meliputi institusi, infrastruktur, stabilitas makroekonomi, kesehatan dan pendidikan dasar, pendidikan tinggi dan pelatihan, efisiensi pasar barang, efisiensi pasar tenaga kerja, kepuasan pasar keuangan, kesiapan teknologi, kesiapan pasar, kepuasan bisnis, dan inovasi. 

Berangkat dari fakta diatas, penulis tertarik untuk menilik kondisi pendidikan di Indonesia. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia memerlukan perbaikan. Dalam laporan di tahun 2007 yang dirilis Bank Dunia dalam Ali (2008) tentang pendidikan di Indonesia, ditemukan bahwa kualitas pendidikan yang diterima di sekolah cukup rendah dan infrastuktur dalam kondisi yang memburuk. Selain itu, sistem pendidikan Indonesia tidak cukup memproduksi siswa dengan pengetahuan dan skill yang dibutuhkan untuk bekerja dalam sektor – sektor ekonomi dengan potensi pertumbuhan yang tinggi. 

Ada banyak hal yang perlu diperbaiki tentang pendidikan di Indonesia, tetapi perbaikan mendasar menjadi hal yang utama. Hal yang paling mendasar tersebut adalah  mindset tentang pendidikan itu sendiri. Di hari – hari sekarang ini, berbagai pihak, yang meliputi sekolah, orang tua siswa, dan siswa, beranggapan bahwa sekolah adalah ajang kompetisi, dalam artian, sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar siswa, tempat memperoleh ilmu pengetahuan, beralih perannya menjadi tempat untuk membuktikan siapa yang terbaik diantara siswa dan tempat untuk menunjukkan siapa yang memiliki nilai yang tinggi. 

Pola pikir seperti ini terbentuk karena pandangan bahwa sekolah terbaik adalah sekolah yang siswanya mengungguli siswa dari sekolah lain dalam hal akademis. Koesoema (2016) menyatakan bahwa di Indonesia, praktis kecurangan selama Ujian Nasional telah berlangsung lama dan menjadi cara bertindak umum dikalangan pendidik dan siswa. Indikator akademis masih menjadi indikator utama dalam menilai kualitas suatu sekolah. Indikator prestasi akademis menjadi indikator penentu seseorang disebut cerdas atau tidak. Banyak orang tua kelimpungan mencari tempat les terbaik agar anaknya bisa mendapat nilai yang baik di sekolah. Orang tua akan merasa malu jika anaknya harus mengikuti ujian ulang. Hal ini tentu tidak salah, ujian memang diperuntukkan untuk menguji pemahan siswa, tetapi mendapat nilai yang tinggi bukanlah hal yang utama. 

Banyak pihak lupa bahwa indikator keberhasilan suatu pendidikan tidak hanya ditentukan pada prestasi akademis. Betapa banyak saat ini dijumpai orang yang hebat dalam hal akademis, tetapi akhlak dan perilakunya tercela. Banyak pihak lupa bahwa sekolah adalah tempat mencari ilmu, tempat mengajarkan akhlak dan adab dari seorang guru kepada siswanya, bukan sekadar tempat berkompetisi.

Pola pikir yang demikian menyebabkan siswa terbentuk dengan karakter yang materialis. Keberhasilan diukur dengan nilai yang tinggi. Kondisi ini menyebabkan siswa dapat menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai yang tinggi tersebut. Ditambah dengan kemajuan teknologi, kemudahan demi kemudahan dapat diperoleh siswa untuk mendapatkan nilai yang tinggi, mencontek dengan  mengakses google misalnya. Koesoema (2016) menyatakan jika kita memahami peran guru sekadar sebagai agen transfer ilmu yang tugasnya seperti mengisi otak siswa dengan pengetahuan bagaikan gelas kosong, kemajuan teknologi merupakan pukulan telak yang membuat guru knock out  sebelum bel ronde terakhir berbunyi. Guru senantiasa ketinggalan zaman, dia bisa benar-benar kehilangan orientasi nilai tentang keberadaan dirinya sebagai pendidik dan pengajar.

Andirja (2016) menyatakan bahwa dalam Kitab Buluughul Maraam karya Al-Haafizh Ibnu Hajar yang membahas tentang fiqih, diakhiri dengan Kitaabul Jaami’ yang cenderung berhubungan dengan masalah adab dan akhlak. Hal tersebut seolah menunjukkan bahwa jika seseorang telah menguasai bab-bab ilmu, maka hendaknya dia beradab dan memiliki akhlak yang mulia. Adab yang mulia dalam pendidikan di Indonesia adalah hal yang sangat penting. Andirja (2016) menambahkan karena bisa jadi ilmu yang luas dapat menjadikan pemiliknya terjerumus dalam kesombongan dan merendahkan orang lain. 

Mengubah mindset tentu bukan hal yang mudah. Namun, dengan semangat yang sama seperti awal kemerdekaan negeri ini, tujuan negara adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan negara adalah untuk mencetak siswa yang berilmu dan dapat mengamalkan ilmunya. Pendidikan sebagai hal yang mampu menopang stabilitas nasional, perlu mendapat perhatian utama untuk segera dibenahi. Mana mungkin bangsa ini dapat mencapai derajat stabilitas nasional untuk memenangi persaingan global, jika pola pikir pragmatis, yaitu belajar untuk ujian dan untuk nilai yang tinggi, bukan untuk mendapat ilmu yang baik, tetap tidak ditinggalkan?




Referensi :
Soedijarto. 2008. Landasan dan Arah Pendidikan Kita. Jakarta : Kompas Media
            Nusantara.
Koesoema A., Doni. 2016. Pendidik Karakter di Zaman Keblinger. Jakarta : Grasindo.
Andirja, Firanda. 2016. Muslim yang Paling Sempurna Imannya, yang Paling Baik
Akhlaknya. Bogor : Bimbingan Islam, Pesantren Wisata Madinatul Qur’an.
Ali, Mohammad. 2009. Pendidikan untuk Pembangunan Nasional. Jakarta: Imtima.