Skip to main content

Bukan Ajang Kompetisi

Oleh : 
Rahma Aziza Fitriana
 (Mahasiswa semester 5 DIII Akuntansi Reguler PKN STAN)

Indonesia adalah negara hukum yang mengatur seluruh aspek dalam kehidupan bernegaranya dalam hukum yang berlaku. Tujuan negara Indonesia tercantum pada pembukaan Undang – Undang Dasar 1945. Satu diantaranya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi titik penting untuk meningkatkan stabilitas nasional karena pendidikan adalah salah satu hal terpenting dalam kemajuan suatu bangsa. Dalam buku berjudul ‘Landasan dan Arah Pendidikan Kita’ yang ditulis oleh Prof. Dr. Soedijarto, M.A. (2008), Erman Suparno yang pada periode Indonesia Bersatu jilid pertama mengemban amanah sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, mengungkapkan bahwa kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan kualitas pendidikan. Beliau menambahkan bahwa pendidikan sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa memiliki peranan yang sangat stategis, yaitu berkontribusi dalam mengembangkan sumber daya manusia (SDM) yang bermutu, dengan indikator berkualifikasi ahli, terampil, kreatif, inovatif, serta memiliki attitude (sikap dan perilaku) yang positif. 

Pendidikan menjadi hal yang memengaruhi daya saing suatu negara. Schwab dan Porter dalam Ali (2008) mengungkapkan bahwa pilar-pilar daya saing meliputi institusi, infrastruktur, stabilitas makroekonomi, kesehatan dan pendidikan dasar, pendidikan tinggi dan pelatihan, efisiensi pasar barang, efisiensi pasar tenaga kerja, kepuasan pasar keuangan, kesiapan teknologi, kesiapan pasar, kepuasan bisnis, dan inovasi. 

Berangkat dari fakta diatas, penulis tertarik untuk menilik kondisi pendidikan di Indonesia. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia memerlukan perbaikan. Dalam laporan di tahun 2007 yang dirilis Bank Dunia dalam Ali (2008) tentang pendidikan di Indonesia, ditemukan bahwa kualitas pendidikan yang diterima di sekolah cukup rendah dan infrastuktur dalam kondisi yang memburuk. Selain itu, sistem pendidikan Indonesia tidak cukup memproduksi siswa dengan pengetahuan dan skill yang dibutuhkan untuk bekerja dalam sektor – sektor ekonomi dengan potensi pertumbuhan yang tinggi. 

Ada banyak hal yang perlu diperbaiki tentang pendidikan di Indonesia, tetapi perbaikan mendasar menjadi hal yang utama. Hal yang paling mendasar tersebut adalah  mindset tentang pendidikan itu sendiri. Di hari – hari sekarang ini, berbagai pihak, yang meliputi sekolah, orang tua siswa, dan siswa, beranggapan bahwa sekolah adalah ajang kompetisi, dalam artian, sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar siswa, tempat memperoleh ilmu pengetahuan, beralih perannya menjadi tempat untuk membuktikan siapa yang terbaik diantara siswa dan tempat untuk menunjukkan siapa yang memiliki nilai yang tinggi. 

Pola pikir seperti ini terbentuk karena pandangan bahwa sekolah terbaik adalah sekolah yang siswanya mengungguli siswa dari sekolah lain dalam hal akademis. Koesoema (2016) menyatakan bahwa di Indonesia, praktis kecurangan selama Ujian Nasional telah berlangsung lama dan menjadi cara bertindak umum dikalangan pendidik dan siswa. Indikator akademis masih menjadi indikator utama dalam menilai kualitas suatu sekolah. Indikator prestasi akademis menjadi indikator penentu seseorang disebut cerdas atau tidak. Banyak orang tua kelimpungan mencari tempat les terbaik agar anaknya bisa mendapat nilai yang baik di sekolah. Orang tua akan merasa malu jika anaknya harus mengikuti ujian ulang. Hal ini tentu tidak salah, ujian memang diperuntukkan untuk menguji pemahan siswa, tetapi mendapat nilai yang tinggi bukanlah hal yang utama. 

Banyak pihak lupa bahwa indikator keberhasilan suatu pendidikan tidak hanya ditentukan pada prestasi akademis. Betapa banyak saat ini dijumpai orang yang hebat dalam hal akademis, tetapi akhlak dan perilakunya tercela. Banyak pihak lupa bahwa sekolah adalah tempat mencari ilmu, tempat mengajarkan akhlak dan adab dari seorang guru kepada siswanya, bukan sekadar tempat berkompetisi.

Pola pikir yang demikian menyebabkan siswa terbentuk dengan karakter yang materialis. Keberhasilan diukur dengan nilai yang tinggi. Kondisi ini menyebabkan siswa dapat menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai yang tinggi tersebut. Ditambah dengan kemajuan teknologi, kemudahan demi kemudahan dapat diperoleh siswa untuk mendapatkan nilai yang tinggi, mencontek dengan  mengakses google misalnya. Koesoema (2016) menyatakan jika kita memahami peran guru sekadar sebagai agen transfer ilmu yang tugasnya seperti mengisi otak siswa dengan pengetahuan bagaikan gelas kosong, kemajuan teknologi merupakan pukulan telak yang membuat guru knock out  sebelum bel ronde terakhir berbunyi. Guru senantiasa ketinggalan zaman, dia bisa benar-benar kehilangan orientasi nilai tentang keberadaan dirinya sebagai pendidik dan pengajar.

Andirja (2016) menyatakan bahwa dalam Kitab Buluughul Maraam karya Al-Haafizh Ibnu Hajar yang membahas tentang fiqih, diakhiri dengan Kitaabul Jaami’ yang cenderung berhubungan dengan masalah adab dan akhlak. Hal tersebut seolah menunjukkan bahwa jika seseorang telah menguasai bab-bab ilmu, maka hendaknya dia beradab dan memiliki akhlak yang mulia. Adab yang mulia dalam pendidikan di Indonesia adalah hal yang sangat penting. Andirja (2016) menambahkan karena bisa jadi ilmu yang luas dapat menjadikan pemiliknya terjerumus dalam kesombongan dan merendahkan orang lain. 

Mengubah mindset tentu bukan hal yang mudah. Namun, dengan semangat yang sama seperti awal kemerdekaan negeri ini, tujuan negara adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan negara adalah untuk mencetak siswa yang berilmu dan dapat mengamalkan ilmunya. Pendidikan sebagai hal yang mampu menopang stabilitas nasional, perlu mendapat perhatian utama untuk segera dibenahi. Mana mungkin bangsa ini dapat mencapai derajat stabilitas nasional untuk memenangi persaingan global, jika pola pikir pragmatis, yaitu belajar untuk ujian dan untuk nilai yang tinggi, bukan untuk mendapat ilmu yang baik, tetap tidak ditinggalkan?




Referensi :
Soedijarto. 2008. Landasan dan Arah Pendidikan Kita. Jakarta : Kompas Media
            Nusantara.
Koesoema A., Doni. 2016. Pendidik Karakter di Zaman Keblinger. Jakarta : Grasindo.
Andirja, Firanda. 2016. Muslim yang Paling Sempurna Imannya, yang Paling Baik
Akhlaknya. Bogor : Bimbingan Islam, Pesantren Wisata Madinatul Qur’an.
Ali, Mohammad. 2009. Pendidikan untuk Pembangunan Nasional. Jakarta: Imtima.







Comments

Popular posts from this blog

Syahadat Mematahkan Salib Pendeta

Bismillahirahmanirahim
hari ini,30 desember 2012,di Masjid Al Falah Surabaya, aku menyaksikan kesaksian seorang mantan Pendeta yang menjadi muslim dan menjadi ustadz saat ini.

dimulai dengan video perdebatan mantan muslim dan mantan nasrani yang ha banget
lalu sebuah cerita nyata tentang saudara kita seorang yang baru masuk islam,ayahnya seorang hindu dan ibunya seorang aktivis gereja, ia ketahuan shalat malam oleh ayahnya,dan hari pertama seluruh alat shalatnya dibakar, tidak jera,ia kembali shalat, hari kedua rambutnya dipangkas oleh ayahnya,tak jera lagi,ia kembali shalat dan hari ketiga itulah ia diikat oleh rantai,hingga akhirnya meninggal dunia. adiknya yang juga ingin masuk Islam,lari ke masjid Al Falah dan melaporkan hal ini.
taukah kawan? jasad saudari kita ini di semayamkan di gereja lalu di bakar secara ngaben,namun, wajahnya (kepala) tak mampu terbakar,bahkan tergores pun tidak. hingga ayahnya jengkel dan membawanya ke guru agama Islam putrinya dan disanalah, kepalanya dik…

sakit

Setiap manusia pasti diuji
dan itu adalah pasti

mungkin ujian terberat adalah ketika diberi kemudahan
karena dengan kemudahan, kadang kala kita jadi mudah meremehkan orang lain

Allah sudah memerintahkan untuk berdoa
berdoa memohon yang terbaik

Kadangkala sebagai penonton, kita mudah mengatakan
"Sabar ya...insyaAllah ada jalan keluarnya"

Namun ketika kita sebagai pemain, kita seolah susah menerapkan kesabaran

ini adalah tahun kesekian bagiku untuk melewati ujian ini lagi
sakit. Yang tidak mudah untuk aku jelaskan

kondisiku menjadi berbeda dengan orang lain
dan terkadang aku merasa iri dengan mereka yang normal-normal saja

lalu aku tersadar, mungkin ini adalah jalan yang mudah bagiku untuk membuka pintu surga bernama "kesabaran"

iya. Kesabaran

Betapa banyak cerita tentang hamba Allah yang diuji berbagai hal dan sabar dan mereka menjadi terangkat derajatnya dihadapan Allah.

sakit. Tidak apa-apa.
aku memang kurang normal jika dibandingkan orang lain
tetapi itu berarti …

Terlalu Tangguh

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Hari kedua Praktik Kerja Lapangan (PKL) dan sekaligus hari kedua merasakan kerasnya kehidupan Jakarta. Terlalu lebay mungkin jika disebut keras, maksudku disini adalah merasakan macetnya Jakarta. Baru dua hari dan aku merasakan ternyata capek juga ya untuk menempuh jarak yang hanya 9 km di Jakarta. Bagaimana tidak? Jika bandingannya adalah SMA dan kampusku dulu di Surabaya yang bisa lebih dari 15 km dan aku tempuh sendiri, rasa capeknya lebih besar di Jakarta.

Tadi pagi, saat baru sampai kantor dan perut keroncongan, aku melihat banyak pekerja yang berlalu-lalang. Aku kagum melihat mereka. Sudah berapa tahun mereka melewati ini semua? Aku saja, tadi pagi merasa begitu capek untuk naik motor ke kantor. Aku membayangkan mereka yang harus berdiri di KRL atau busway dan mereka masih harus bekerja selama berjam-jam.

Begitu sayangnya kah mereka kepada keluarganya?
Hingga mereka mengorbankan tenaganya agar keluarganya tetap s…