Skip to main content

Terlalu Tangguh

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Hari kedua Praktik Kerja Lapangan (PKL) dan sekaligus hari kedua merasakan kerasnya kehidupan Jakarta. Terlalu lebay mungkin jika disebut keras, maksudku disini adalah merasakan macetnya Jakarta. Baru dua hari dan aku merasakan ternyata capek juga ya untuk menempuh jarak yang hanya 9 km di Jakarta. Bagaimana tidak? Jika bandingannya adalah SMA dan kampusku dulu di Surabaya yang bisa lebih dari 15 km dan aku tempuh sendiri, rasa capeknya lebih besar di Jakarta.

Tadi pagi, saat baru sampai kantor dan perut keroncongan, aku melihat banyak pekerja yang berlalu-lalang. Aku kagum melihat mereka. Sudah berapa tahun mereka melewati ini semua? Aku saja, tadi pagi merasa begitu capek untuk naik motor ke kantor. Aku membayangkan mereka yang harus berdiri di KRL atau busway dan mereka masih harus bekerja selama berjam-jam.

Begitu sayangnya kah mereka kepada keluarganya?
Hingga mereka mengorbankan tenaganya agar keluarganya tetap survive di kota ini.

Dan ya, aku ingat Ibuk.

Sudah lama ibuk menjadi single parent. Dan selama itu pula, aku yakin ibuk banyak menanggung berbagai beban hidup sendiri.
Sekarang aku tahu alasannya, ibuk bukanlah pegawai Kementerian Keuangan yang tunjangannya menjulang ke langit. Ibuk pegawai biasa yang tumbuh dan besar di desa dan harus membesarkan dua anak di kota. Mungkin itu yang menjadi alasan terkuat ibukku untuk tak ada lelahnya bekerja.

Aku ingat, di usiaku yang ke-4, ibuk menjual baju di rumah. Pagi bekerja di kantor, malam menjual baju. Belum lagi urusan rumah tangga yang harus diselesaikan sepulang dari kantor. Belum lagi jika aku, sebagai anak terakhir rewel minta ini itu.
Pernah juga ibuk menjual tas dan bantal. Pernah menjual panci, telepon, dll.

Aku ingat sekali, saat itu, dengan sangat terpaksa, ibuk harus menjual motor yang dipakai ibuk sehari-hari bekerja. Alhasil, ibuk jadi kerepotan tiap akan berangkat kerja. Dan disuatu malam, ibuk pernah bilang
"uang ibuk tinggal lima ribu, kalau besok uang itu buat naik angkot ke kantor, ibuk nggak tahu lusa harus gimana."
dan dengan mudahnya, aku yang saat itu masih kecil menjawab "ibuk, kita jual aja barang-barang dirumah, nanti kita punya uang lagi." *ya emang jual barang bisa langsung semalam jadi? wkwk

Dan aku ingat, saat aku SMP, setelah pulang sekolah, aku sering diajak ibuk ke WTC untuk jualan HP, masih dengan berseragam. Jarak dari kantor ibuk ke SMP ku lalu ke WTC tidaklah dekat. Mungkin dulu benar-benar tidak ada beban bagiku untuk melihat itu semua. Yang aku tahu, tugasku adalah belajar. Saat itu aku tak melihat sedikitpun raut kesedihan dari wajah ibuk. Tak kulihat ibuk ingin mengatakan "Ibuk capek menanggung ini semua."

Pernah suatu malam, setelah menjemput aku sekolah, aku dan ibuk mengalami kecelakaan. Aku sangat khawatir ibuk kenapa-napa. Namun, Alhamdulillah dengan izin Allah, kami berdua baik-baik saja. 

Ibuk, aku tahu tak mudah menjadi ibuk
Kebaikan ibuk tak akan pernah bisa aku balas
Ibuk melewati perihnya perjuangan tanpa kehadiran kerabat dekat
Dan mengapa ibuk tak menunjukkan keletihan dihadapanku?
Mengapa ibuk tak meneteskan air mata didepanku?

Aku tahu Surabaya tak sepadat Jakarta
Namun, perjuangan ibuk selama ini, untuk membuat aku survive, sudah cukup untuk membuat aku mengakui bahwa ibuk memang terlalu tangguh

Aku belum bisa memberi apa-apa selain do'a
Prestasi adalah hal yang aku harap sedikit menghibur ibuk selama ini
Aku tahu ibuk sedikit memaksaku untuk kuliah disini
Agar aku tak merasakan apa yang ibuk rasakan

Dan pada akhirnya, yang mampu bertahan, adalah yang mengerti arti dari menerima.

Bagi kalian yang merasa Ayah/Ibu kalian suka marah ketika pulang kerja
Pahamilah mereka
Mereka sudah berjuang untuk membesarkan kita
Mereka tak kenal lelah agar kita tetap bisa makan

Jangan sia-siakan mereka
Pulang dan peluklah mereka
Saat ini, ketika kita tumbuh dewasa, merekapun akan semakin menua
Sudah saatnya kita yang mengalah
Sudah saatnya kita yang memahami mereka yang lambat-laun akan seperti anak-anak kembali



Comments

Popular posts from this blog

Syahadat Mematahkan Salib Pendeta

Bismillahirahmanirahim
hari ini,30 desember 2012,di Masjid Al Falah Surabaya, aku menyaksikan kesaksian seorang mantan Pendeta yang menjadi muslim dan menjadi ustadz saat ini.

dimulai dengan video perdebatan mantan muslim dan mantan nasrani yang ha banget
lalu sebuah cerita nyata tentang saudara kita seorang yang baru masuk islam,ayahnya seorang hindu dan ibunya seorang aktivis gereja, ia ketahuan shalat malam oleh ayahnya,dan hari pertama seluruh alat shalatnya dibakar, tidak jera,ia kembali shalat, hari kedua rambutnya dipangkas oleh ayahnya,tak jera lagi,ia kembali shalat dan hari ketiga itulah ia diikat oleh rantai,hingga akhirnya meninggal dunia. adiknya yang juga ingin masuk Islam,lari ke masjid Al Falah dan melaporkan hal ini.
taukah kawan? jasad saudari kita ini di semayamkan di gereja lalu di bakar secara ngaben,namun, wajahnya (kepala) tak mampu terbakar,bahkan tergores pun tidak. hingga ayahnya jengkel dan membawanya ke guru agama Islam putrinya dan disanalah, kepalanya dik…

sakit

Setiap manusia pasti diuji
dan itu adalah pasti

mungkin ujian terberat adalah ketika diberi kemudahan
karena dengan kemudahan, kadang kala kita jadi mudah meremehkan orang lain

Allah sudah memerintahkan untuk berdoa
berdoa memohon yang terbaik

Kadangkala sebagai penonton, kita mudah mengatakan
"Sabar ya...insyaAllah ada jalan keluarnya"

Namun ketika kita sebagai pemain, kita seolah susah menerapkan kesabaran

ini adalah tahun kesekian bagiku untuk melewati ujian ini lagi
sakit. Yang tidak mudah untuk aku jelaskan

kondisiku menjadi berbeda dengan orang lain
dan terkadang aku merasa iri dengan mereka yang normal-normal saja

lalu aku tersadar, mungkin ini adalah jalan yang mudah bagiku untuk membuka pintu surga bernama "kesabaran"

iya. Kesabaran

Betapa banyak cerita tentang hamba Allah yang diuji berbagai hal dan sabar dan mereka menjadi terangkat derajatnya dihadapan Allah.

sakit. Tidak apa-apa.
aku memang kurang normal jika dibandingkan orang lain
tetapi itu berarti …