Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2017

Goyah

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Aku berencana menulis di blog selama sebulan kedepan.
Buat apa? Buat menulis banyak hal, termasuk yang terjadi di tahun 2017, tahun yang bener-bener sayang kalau aku biarkan begitu aja tanpa dikemas dalam tulisan.
Semoga bisa ya! Semoga! Mengingat tanggal 23 Januari udh Latsar, semoga ada kesempatan, Aamiin.

Postingan pertama dari rangkain postingan yang (mungkin) akan aku buat kedepan adalah tentang goyah.
Tau apa itu 'goyah' ?

 Secara sederhana aku mendefinisikan goyah sebagai kegagalan untuk berdiri di atas apa yang dipegang dan diyakini.

Baik, sejujurnya alasan mengapa aku menuliskan ini adalah bermula dari tema orientasi hari Jum'at lalu, yaitu tentang beasiswa.

Bercerita tentang beasiswa memang menarik, apalagi kalau luar negeri. Cerita-cerita alumni dan awardee tentang beasiswa luar negeri itu membuat aku takjub.

Luar Negeri yang mereka ceritakan adalah negeri Eropa dan Amerika. Bayanganku tentang sua…

Makna Syahadat

Segala puji hanya milik Allah
Hal yang tak henti ia ucapkan dalam hati.

Betapa banyak nikmat yang telah Allah beri
dan diantara nikmat itu, dia benar-benar mensyukuri nikmat islam dan nikmat sunnah.

Tiada henti kegembiraannya melihat saudara-saudaranya hari ini
Berkumpul untuk tujuan yang satu
Thalabul 'Ilm.



dia yakin sejatinya hidayah itu dicari dan diperjuangkan
dia yakin seyakin-yakinnya, inilah jalan yang lurus
dia tahu rintangannya begitu tajam
Sendiri, menjadi berbeda, atau dicekal
Ya, dia telah merasakannya berulang kali
Namun satu hal yang membuat dia bertahan,
dia yakin bahwa agama islam yang lurus adalah yang dimana dibawakan dalil dari Al-Qur'an dan Hadits di atas pemahaman para sahabat.

Para sahabat?
Ya, dia tahu, banyak sekali yang mengatasnamakan diri membawa dalil dengan Al-Qur'an dan Hadits,
tetapi yang membuat dia yakin adalah dalil di atas pemahaman generasi terbaik
Generasi yang bertemu langsung dengan Rasulullah
Generasi yang dididik langsung oleh Rasul…

Telepon Hari Ini

"Dek, lakukan apa yang ingin kamu lakukan dalam kebaikan, raih apa yang ingin kamu raih, selesaikan apa yang ingin kamu selesaikan, pelajari semua yang adik ingin pelajari, karena setelah menikah, kamu akan terikat, waktumu tidak akan banyak untuk dirimu lagi. Dan adik harus ingat, jangan takut menikah, tidak semua pernikahan akan berakhir seperti ibuk."

What I have to say?

Something like, I do believe that setiap orang tua ga ingin lihat anaknya sedih. Ga mungkin juga orang tua menghalang-halangi kebahagian anaknya. Mereka hanya ingin menjaga dan memastikan kita ada dalam tempat dan kondisi yang semestinya.

Apalagi seorang ibu.

Tidak mungkin seorang ibu akan mudah melepas anak perempuannya begitu saja. Naluri dan perasaan ibu itu kuat. Maka, aku akan lebih memilih apa kata ibuku daripada perasaanku sendiri.

Tulisan dan Pertanggungjawaban

Hanya ingin berbagi apa yang aku rasakan

Beberapa hari ini, banyak kesempatan untuk menulis
menulis yang dilombakan, menulis yang mengasah rangkaian dan untaian kata

Dibalik semangat untuk menulis dan menggoreskan tiap ide, ada sebuah pertanyaan yang sangat mengganjal perasaanku

Seberapa bisa aku mempertanggungjawabkan tulisanku?
Dalam artian, seberapa banyak pengetahuanku dan seberapa sering sih aku membaca sehingga aku layak untuk memberikan tulisan yang berkualitas?
Atau jangan-jangan, tulisanku hanya berdasar pada perasaan tanpa disertai dalil dan landasan?

Ilmu,
Bukankah investasi paling baik adalah dalam hal keilmuan?

Jika aku hanya fokus pada rangkaian demi rangkaian kata tanpa memperhatikan kualitas konten, apa itu bisa aku pertanggungjawabkan?

Bukankah nanti, tiap huruf, tiap detik dari waktu yg digunakan pasti akan ditanya oleh Allah tentang kebermanfaatannya?

Aku merasa menampar diriku sendiri
Begitu menggebu mencoba hal baru, tapi mengesampingkan hal yg sejatinya benar-ben…