Takdir

Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang


"Adik-adik (kelas) mu ya mbak Rahma," kata Pak Andy sore ini.
"Hehe, iya pak."
Sore ini, aku melihat tumpukkan kertas yang merupakan surat dari adik kelas yang mengajukan keberatan atas nilai di salah satu mata kuliah. Jiwa kepoku keluar, aku minta izin membaca surat-surat yang ditujukan untuk direktur dan telah didiaposisi ke jurusan itu.

Aku membaca lembar demi lembar. Berusaha memahami jalan pikiran mereka dan apa yang sedang terjadi.


Cukup rumit menerjemahkan kondisi ini. Kondisi yang ketika aku menjadi mahasiswa, aku pun juga merasakannya.

Hari ini Pak Andy mungkin mulai lelah. Beliau sempat minta izin ke Kajur untuk istirahat karena pusing. Beberapa hari kebelakang, aku mendengar beliau berbincang bahwa kertas ujian untuk dikoreksi belum selesai, belum lagi ada masalah ini yang pasti melibatkan beliau, belum juga plotting dosen semester genap, dan rapat dosen yang akan berlangsung tiga hari.

"Saya diwakili mbak Rahma aja ya ke Bandungnya, Iya Bu Wid? Gimana? Mbak Rahma aja ya yang dateng rapat?" canda Pak Andy di waktu pulang.

Haha pak, sebenernya saya juga pingin banget ke Bandung, tapi mah saya nanti ga ngerti apa-apa disana dan malah ga bisa menghandle prodi. Batinku.

Mungkin candaan beliau sore ini adalah ungkapan betapa banyak hal dan prioritas yang harus beliau selesaikan.


"Saya mau ngumpet di gedung P dulu, mau ngoreksi, biar ga diajak orang ngobrol."

"Saya ini mbak, kalau baca WA pusing, banyak banget pesan masuk, mahasiswa banyak, dosen juga, urusan prodi, haha."

"Saya sampai ga semepet mikirin urusan saya sendiri, Bu Wid, koreksi ini belum selesai juga."


Mungkin itu adalah segelintir hal yang bisa beliau ucapkan.

Barakallahu Fiik pak, semoga sehat selalu dan bisa berbuat yang terbaik untuk prodi ini.
Semoga segala lelah itu berasal dari hati yang terdalam agar dibalas dengan kebaikan.


Aku tahu, Kajur, Kaprodi, Sekjur pun juga sedih dengan adanya hal ini. Siapa sih yang mau mahasiswanya ke-DO? Dan aku percaya beliau-beliau ini akan mengusahakan yang terbaik untuk menyelesaikan hal ini.

Ruangan pun hari ini didatangi beberapa mahasiswa yang keberatan. Ada salah satu yang aku hadapi karena Pak Yun dan Pak Andy sedang tidak di ruangan. Aku melihat wajah khawatir dari adik itu, adik yang kalau aku dibandingkan dengan dia, aku receh banget.

Dari surat dan lampiran yang dia sertakan, dia menang lomba ini lomba itu sejak tingkat satu, dia ikut ini ikut itu, nah aku? Haha.

Hmm...
apa yang aku pelajari dari ini semua adalah

TAKDIR.

Tidak ada satu pun daun yang jatuh melainkan pasti Allah menyetujuinya.

Jika seluruh makhluk di muka bumi ini berusaha memberimu manfaat, tetapi Allah tidak berkehendak, maka manfaat itu tak akan datang menyapamu.

Dan jika seluruh makhluk di muka bumi ini berusaha mendatangkan mudharat, tetapi Allah tidak berkehendak, maka engkau akan terhindar dari mudharat itu.

Kewajiban sebagai seorang muslim adalah beriman pada takdir baik dan takdir buruk, itu yang sering aku dengar di kajian. Menerima takdir yang baik dan juga takdir yang buruk.

Hal ini bisa terjadi karena Dia berkehendak, apa penyebab dan hikmah dibaliknya, mungkin saat ini kita belum tahu.

Satu hal yang ingin aku pesankan, jangan mendahului takdir Allah, bertauhidlah dengan benar. Jangan berkata begini dan begitu sebelum ada kejelasan yang nyata.

Karena jika sesuatu adalah rizekimu, kamu hindari atau kamu tolak sekalipun, hal itu akan tetap menjadi milikmu.

Dan jika sesuatu tak tertulis untukmu, kamu paksakan atau kamu perjuangkan sekalipun tetap tak akan pernah menjadi milikmu. #TermasukJodohYaMa #Eh #ntmsBanget


Berprasangka baik, berdo'a, minta ampun pada Allah, dan jangan berputus asa.

Comments

Popular posts from this blog

sakit

Bagian ternyaman dari Kamar Kos